Misbahuddin, Cermin Profesionalitas Seniman Tradisional PDF Print E-mail
Written by AF Selayar Dotcom   
Thursday, 30 October 2008 01:03
SIEM 2008Akhir bulan Nopember tahun ini, Solo menjadi tempat perhelatan aksi seniman musik tradisional tingkat dunia. Ajang atraksi musik daerah dari berbagai penjuru dunia tersebut digelar di halaman Pamedan Pura Mangkunegaran dari tanggal 28 Oktober hingga 1 Nopember 2008.

Pemusik tradisional Selayar yang bernaung di bawah Sanggar Seni Teratai Passiana' pun dengan berbagai tantangan yang dihadapinya, tetap berusaha sekuat tenaga untuk mengirimkan wakilnya. Misbahuddin dan Astap, merelakan diri merogoh kantong sendiri sekedar untuk bisa ikut meramaikan ajang yang bernama resmi Solo International Etnic Music Festival(SIEM Festival) tersebut.
Berita tersebut di atas digulirkan sebagai bahan diskusi di komunitas Selayar Dotcom oleh Amar Aprizal, anggota Selayar Dotcom yang juga seorang penggiat seni tradisional. Amar, yang juga teman se-alumni Misbah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia Gowa bercerita mengenai keadaan memprihatinkan dua duta Selayar di bidang seni trasional tersebut.

Sewaktu kami berbincang-bincang via telpon dengan Misbah yang sementara berada di Solo, beliau menceritakan tentang berbagai ragam ujian menjelang keberangkatan mereka. "Saya sebetulnya masih dalam proses perawatan, namun karena pentingnya event ini, terpaksa minta surat dokter untuk bisa meninggalkan rumah sakit", demikian Misbah mulai membuka pembicaraan lebih dalam dengan suara yang tetap bersemangat.

Misbah Selayar dotcomSekitar 5 bulan yang lalu, Misbah mengajukan proposal kepada panitia SIEM Festival untuk mengambil bagian dalam acara tersebut, dan panitia pun mengabulkan keikut-sertaan pemusik tradisional Selayar tersebut. "Eh..., mendekati hari H, malah saya diserang penyakit", ujarnya sambil tertawa. Belum lagi berbagai kendala yang kami hadapi menjelang keberangkatan, sambungnya.

Tatkala kami menanyakan jumlah peserta dari Selayar, dengan suara sedikit membiaskan perasaan kekecewaan, Misbah menjawab, "Kami hanya 2 orang. Saya yang sebetulnya pemain gandrang, gendang tradisional Selayar, terpaksa akan berubah haluan memperagakan suling". Sementara Astap teman Misbah akan membawakan pui'-pui', terompet tradisional Selayar. Misbah menambahkan bahwa Astab adalah salah seorang peniup pui'-pui' termuda di Selayar.

3 bulan yang lalu, rencana jumlah anggota rombongan mereka ada 12 orang, seperti yang mereka ajukan ke panitia acara. Namun karena keterbatasan dana, terpaksa hanya bisa diwakili oleh Misbah dan Astap. "Ini juga tanpa sepeser pun bantuan dana dari pemerintah daerah", katanya mantab seakan menunjukkan ke-pede-an bahwa merekapun bisa berbuat walau sangat kecil tanpa dibiayai oleh pemerintah. Kami sudah mengajukan proposal minta bantuan, bahkan berbagai cara negosiasi sudah kami tempuh, namun karena pemerintah daerah tidak punya anggaran untuk itu, hasilnya nol besar, paparnya.

Misbah mengakui bahwa mereka tidak punya uang pribadi untuk membiayai misi tersebut, sehingga tatkala usaha mereka minta bantuan ke pemerintah tidak berhasil, sempat mengajukan surat pengunduran diri kepada panitia. Tapi ternyata di luar dugaan, panitia tidak memberikan izin untuk mengundurkan diri. Alasan mereka, agenda-nya sudah dipublikasikan, dan itu tidak bisa lagi diubah. "Ini masalah reputasi bangsa", kilah Misbah menirukan jawaban dari panitia. Mendengar jawaban tersebut, kontan Misbah menjadi kelimpungan, lalu mencoba 'mengadu nasib' kembali ke unsur-unsur pemerintah. Sekali dua kali dicoba dan gagal, untuk kali yang ketiga akan berhasil. Kata-kata bijak itu ternyata tidak berlaku untuk mereka.

Jalan terakir, Misbah memberanikan diri melakukan negosiasi dengan panitia acara. Dan dengan usaha yang pantang menyerah itu, mereka mendapatkan suntikan bantuan dari panitia setara ongkos transpor dari Selayar ke Solo. Ketika kami menanyakan masalah tempat penginapan dan ongkos makan selama di Solo, dengan spontan Misbah menjawab, "Urusan seperti itu gampanglah. Lagian seniman seperti kami sudah biasa koq tidur di mana saja".

Menjelang akhir-akhir pembicaraan, kami teringat tentang masalah kepulangan mereka ke Selayar. Mau naik apa, siapa yang membiayai? Misbah dengan santai menjawab bahwa mereka mungkin bertahan sebentar di Solo mengamen dengan musik tradisional Selayar untuk mencari biaya transpor pulang ke Selayar tercinta. Jujur saat itu hati kami sempat tersentak. Dan dari kisah pilu seorang Misbah, yang nota bene menjadi 'duta daerah' mempromosikan budaya Selayar di tingkat dunia, beberapa anggota Selayar dotcom yang tidak mau disebutkan namanya mengulurkan tangan walau cuma sekedar untuk makan di pinggir jalan. Toh mereka bekerja untuk promosi daerah sendiri, promosi budaya yang ujung-ujungnya akan menjadi promosi parawisata Daerah Selayar, tanpa minta bayaran atau fasilitas melebihi sekedar biaya perjalanan saat itu.

"Seniman rata-rata sudah mendapatkan kepuasan dengan mengekspresikan diri lewat bidang seni yang dilakoni", ujarnya seakan mengungkapkan, seperti itulah seniman sejati. Namun di sisi lain, kami justru melihat merekalah sebetulnya sosok profesional yang sesungguhnya. Potret seorang profesional yang justru bertolak belakang dengan image orang profesional yang umum didefinisikan dalam masyarakat, identik dengan uang.

Terakhir tatkala kami minta pesan-pesan dari mereka, Misbah berujar dengan suara datar, "Liriklah kesenian tradisional daerah karena kesenian daerah adalah salah satu unsur budaya yang dominan. Budaya mendapat ruang penting untuk bidang parawisata, sehingga memajukan kesenian daerah sama artinya dengan menabur benih kemajuan parawisata. Tidak perlu mahal, asal ada kemauan murni". Akhirnya pembiacaraan kami tutup dengan saling berpesan, "Selamat Berkarya".

Comments (3)

Last Updated ( Tuesday, 11 November 2008 11:37 )