Mappinawang, Berteman Dengan Rakyat Lemah

written by : selayar
10 October, 2013

mappinawang_20081231_1251438809Kemampuan merasakan penderitaan kaum terpinggirkan menjadi penyemangat putra kelahiran Selayar ini untuk tetap bisa beraktifitas. Tekanan yang datang dari berbagai arah, tidak pernah mampu menaklukkan pendiriannya yang kokoh. Berbuat dan berbicara apa adanya, menjadi modal utama sehingga tiada seorang pun yang mampu mendiktenya.

Mappinawang, sebuah nama yang sangat kental unsur kedaerahannya. Kiprah paling menonjol yang sempat muncul ke permukaan, hingga di tingkat nasional, adalah kekokohannya memimpin Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Sulawesi Selatan pada saat pemilihan gubernur Sulawesi Selatan, yang sempat kisruh beberapa bulan yang lalu.

Kalem dan menyeramkan, itulah kesan awal yang kami tangkap dari sosok Mappinawang, saat menemui beliau di rumah kediamannya di bilangan Gowa Sulawesi Selatan. Postur tubuhnya yang tinggi besar, dikombinasikan dengan potongan kumis yang terpelihara rapi, secara pisik mampu meredam nyali untuk berhadapan dengannya. Padahal dia adalah sosok yang sudah lama berbaur dengan masyarakat bawah, masyarakat yang tertindas secara ekonomi dan kebijakan yang berhubungan dengannya. Lewat Lembaga Bantuan Hukum Ujung Pandang, dia telah lama mengadakan pemberdayaan masyarakat lemah dalam mempertahankan hak-hak mereka. “Kami hanya mendampingi dan sekaligus memberdayakan mereka”, ujarnya tatkala kami menanyakan jenis aktivitasnya di LBH yang pernah lama dipimpinnya itu.

Perjalanan hidupnya yang berasal dari sebuah desa, di daerah terpencil Selayar, ternyata sanggup mendesign jalan hidup untuk selalu dekat dengan masyarakat, khususnya masyarakat lemah. Mappinawang, memang menjalani masa kecil hingga menamatkan pendidikan tingkat dasar, di Batangmata Sapo, Kabupaten Kepulauan Selayar. Nilai-nilai agama Islam yang tertanam kuat dalam keluarganya, menggiring dia melanjutkan pendidikan menengah di Pesantren IMMIM, sebuah pesantren modern papan atas di Sulawesi. Kehidupan pesantren tersebut sepertinya yang mencetak jiwa seorang Mappinawang penuh dengan unsur idealisme. Dan idealisme yang kuat itu, tidak pernah lekang oleh berbagai iming-iming dunia, hingga hari ini.

Selepas menjalani penggemblengan selama 6 tahun di pesantren IMMIM, Mappinawang melanjutkan pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin. Jurusan yang dipilih, seakan sejalan dengan minatnya untuk selalu dekat dengan orang-orang tergerogoti haknya.

Setelah gelar Sarjana Hukum sudah di tangan, Mappinawang masih sibuk mengikuti berbagai pelatihan maupun conference baik di dalam, maupun di luar negeri. Hal ini dilakoni untuk memperkokoh ruang berpijak dalam menjalankan kegiatan sebagai praktisi hukum yang banyak berhubungan dengan HAM, dan hukum yang berhubungan dengannya. Intinya, kembali lagi kepada “semua demi membela rakyat kecil, terpinggirkan”.

Seperti sudah sedikit diungkin sebelumnya, selama ini Mappinawang banyak aktif di Yayasan Lembaga bantuan Hukum Indonesia. Bahkan sejak tahun 1993 hingga 2003, dia dipercaya menjadi Direktur Lembaga Bantuan Hukum(LBH) Makassar. Bahkan tahun 2002, Mappinawang menjadi salah seorang caretaker Ketua Dewan Pengurus Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia(YLBHI).

Lewat LBH, sudah tidak terhitung masyarakat lemah yang beliau bela hak-haknya. Di Makassar sendiri, maupun dari berbagai pelosok daerah di Sulawesi Selatan, seperti kasus pembebasan tanah parawisata di Bira, Perkebunan tebu di Bone, Pasar Sentral di Makassar, dan masih banyak lagi yang lainnya. “Kami hanya mendampingi, dan sekaligus memberdayakan mereka, lalu merekalah yang jalan sendiri membela hak mereka sendiri”, ungkapnya merendah.

Berbagai organisasi telah menjadi kendaraan beliau untuk menjalankan misi-misi sosialnya. Bahkan Anti Corruption Committee(ACC), nama Mappinawang terpampang sebagai salah seorang pendirinya. Institusi ini, masih aktif hingga saat sekarang ini.

Mappinawang, mulai “dekat” dengan hal-hal yang berurusan dengan pemilihan umum sejak tahun 2000. Tahun itu, dia diangkat menjadi salah seorang Dewan Pakar Komite Pemantau Legislatif(KOPEL) Sulawesi, sampai sekarang.

Sejak tahun 2003, bapak dari seorang putra dan seorang putri ini menjadi anggota di Komisi Pemilihan Umum(KPU) Provinsi Sulawesi Selatan. Saat diadakan pemilihan Gubernur langsung di Sulawesi Selatan, Mappinawang menjabat sebagai ketua KPUD Sulawesi Selatan. Sepak terjangnya membela yang benar, khususnya rakyat kecil, berikut resiko-resikonya, membuatnya kebal terhadap “ketakutan” akan intimidasi, terutama panasnya gejolak pemilihan gubernur Sulawesi Selatan itu. Kursi panas di KPUD, tidak sampai dirasakan olehnya.

“Kami kan hanya menjalankan”, jawabnya singkat saat kami menanyakan apa dia tidak merasa takut dengan panas-nya pilgub tersebut. “Hal yang berat sesungguhnya adalah bagaimana susahnya berkonsolidasi dengan anggota di lapangan, terutama di kabupaten-kabupaten”, imbuhnya. “Ada 120 ribuan penyelenggara di lapangan, dan kita harus bisa memproteksi teman-teman tersebut”, lanjutnya. “Intimidasi, apapun bentuknya, pasti saja akan ada. Tapi saya sudah terbiasa dengan hal-hal yang seperti itu”, dia bercerita secara enteng, tanpa beban apa-apa.

Kegiatan Mappinawang selepas dari keanggotaan KPUD adalah kembali kepada bidang dasarnya, advokasi hukum. Tatkala kami diterima di rumahnya, dia sedang memberikan konsultasi hukum kepada KPUD sebuah daerah yang juga digugat oleh salah satu peserta pilkada. Hal itu yang membuat Mappinawang, harus mondar mandir Jakarta Makassar.

Salah satu yang hal yang paling berkesan dalam segala kegiatannya selama ini, tidak keluar dari perasaan kepuasan seorang profesional dalam menjalankan profesi yang dilakoni. “Masyarakat terpinggirkan bisa kembali mendapatkan sesuatu yang memang hak mereka, setelah kami dampingi, memberikan rasa kepuasan tersendiri. Itulah yang sangat berkesan”, jawabnya bersemangat disertai senyuman khasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *